×
====Corporate News
Our Latest News and Blog
Home > News and Blogs > WAVES Magazine KSA > K3 DALAM LINGKUNGAN KERJA

K3 DALAM LINGKUNGAN KERJA

WAVES Magazine KSA

K3 DALAM  LINGKUNGAN  KERJA

Dalam menjalankan aktivitas pekerjaan sehari-hari, kerap kali kesadaran kita masih kurang dalam memperhatikan prosedur, mengikuti pelatihan, dan pengelolaan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja). Minimnya kesadaran akan K3 dapat terlihat dari terjadinya insiden yang akhirnya menimbulkan kerugian. 

Kerugian tersebut dapat terjadi pada diri sendiri, perusahaan, maupun orang lain dan lingkungan (alam). Kerugian lainnya yang akan dialami 
oleh perusahaan adalah hasil kerja yang tidak optimal. Ketika prosedur K3 tidak dijalankan, masalah berupa cedera, dan timbulnya penyakit akibat kerja 
(PAK) bisa saja terjadi. Akibatnya, produktivitas pekerja pun menurun dan hasil kerja menjadi tidak optimal.

Penerapan K3 yang optimal dilakukan dalam suatu sistem manajemen yang berdasarkan Permenaker No.5 Tahun 1996 tentang Sistem Manajemen 
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) sebagai salah satu dasar hukumnya, dimana setiap perusahaan yang mempekerjakan 100 (seratus) tenaga kerja atau lebih dan atau yang mengandung potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan 
kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran lingkungan dan penyakit akibat kerja (PAK).

International Labor Organization (ILO) menunjukkan bahwa setiap tahun terdapat 2,3 juta pekerja di dunia yang meninggal karena PAK maupun kecelakaan. Angka tersebut didominasi oleh PAK, yaitu 2,02 juta kasus meninggal Berdasarkan data ILO 2013, 50 persen pekerja di negara berkembang menderita pneumokoniosis yakni penyakit gangguan pernapasan yang dipicu oleh pajanan debu batu bara, mineral, silica, dan asbestos.

Setiap jenis pekerjaan dan profesi tentu memiliki karakteristik tersendiri. Profesi sebagai pelaut menjadi kebanggaan tersendiri. Namun dibalik itu, pelaut 
sebenarnya memiliki risiko bahaya sangat tinggi dan rentan terkena penyakit berbahaya. Hal ini karena dipengaruhi oleh sifat pekerjaan di kapal, perubahan kondisi iklim, jenis muatan yang dibawa, jam kerja, bahan-bahan chemical yang ditangani, penyakit epidemik dan endemik, 
kebiasaan pribadi dan masih banyak hal lainnya. 

Untuk itu, pengetahuan, upaya pencegahan, dan pengelolaan risiko harus dilakukan untuk menghindari penyakit berbahaya dan serius yang umum diderita pelaut.

TAG :

ptksa, kartika samudra adijaya, tug and barges, floating crane, tanker, shipping company, indonesia, tanker indonesia