×
====Corporate News
Our Latest News and Blog
Home > News and Blogs > WAVES Magazine KSA > K3 DALAM LINGKUNGAN KERJA (Penyakit Berbahaya di Lingkungan Kerja-2)

K3 DALAM LINGKUNGAN KERJA (Penyakit Berbahaya di Lingkungan Kerja-2)

WAVES Magazine KSA

K3 DALAM LINGKUNGAN KERJA (Penyakit Berbahaya di Lingkungan Kerja-2)

Penyakit berikutnya adalah:

6. Pandemic Disease / Penyakit wabah (Epidemik & Endemik)

Karena sifat pekerjaan mereka, pelaut terikat untuk mengunjungi banyak pelabuhan di berbagai wilayah sehingga berisiko terkena berbagai penyakit pandemi dan epidemi. Mereka berada dalam risiko terkena ledakan tiba-tiba dari penyakit baru di daerah yang mereka kunjungi seperti malaria, kolera, demam kuning, ebola, TBC dll.

Untuk itu, Pelaut perlu divaksinasi dan secara medis harus diperiksa secara menyeluruh; Saat ini kita tengah menghadapi penyakit Covid-19 yang telah menjadi pandemi di seluruh dunia. Disiplin diri dan kesadaran menjalankan protokol pencegahan penularan menjadi kunci meminimalisasi risiko tertular penyakit wabah.

7. PAK terkait jenis muatan yang dibawa

a. CWP – Black Lung Disease

Pneumokoniosis gejalanya hampir mirip dengan gangguan pernapasan lainnya seperti tuberkulosis atau sejenisnya karena ditandai dengan batuk, pilek dan sesak napas, sehingga sulit dideteksi dini. Debu batubara mengandung bahan kimiawi yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit paru-paru, dikenal sebagai Coalworker’s Penumoconiosis / CWP.

Penyakit tersebut muncul bila masyarakat yang berada di lokasi tambang batubara, atau di kawasan lalu-lintas pengangkutan batubara, menghirup debu batubara secara terus menerus, dan yang paling berisiko adalah pekerja penambangan batubara itu sendiri (Masdjidi, 2006). Paru-paru hitam / Black Lung Disease merupakan penyakit pernafasan yang terjadi karena menghirup debu batubara dalam jangka panjang.

Akibat terus menerus menghirup udara tercemar debu batubara pekat itu, paruparu pekerja penambangan akan terkontaminasi partikel batubara hingga kondisinya menghitam (Tugaswati, 2006). Selain penyakit paruparu hitam, penambangan batubara juga menyebabkan berbagai penyakit lain, seperti TBC, asma, dan kanker paru-paru. Oleh karena itu, masyarakat sekitar penambangan diharapkan dapat mewaspadai gejalagejala yang muncul akibat maraknya penambangan dan pengangkutan batubara tersebut.

Berbagai faktor berpengaruh dalam timbulnya penyakit atau gangguan pada saluran napas akibat debu. Faktor itu antara lain adalah faktor debu yang meliputi ukuran partikel, bentuk, konsentrasi, daya larut dan sifat kimiawi, serta lama paparan. Faktor individual meliputi mekanisme pertahanan paru, anatomi dan fisiologi saluran napas dan faktor imunologis. Partikel debu yang dapat dihirup berukuran 0,1 sampai kurang dari 10 mikron. Debu yang berukuran antara 5-10 mikron bila terhisap akan tertahan dan tertimbun pada saluran napas bagian atas; yang berukuran antara 3-5 mikron tertahan dan tertimbun pada saluran napas tengah.

Partikel debu dengan ukuran 1-3 mikron disebut debu respirabel merupakan yang paling berbahaya karena tertahan dan tertimbun mulai dari bronkiolus terminalis sampai alveoli paru-paru. Debu yang ukurannya kurang dari 1 mikron tidak mudah mengendap di alveoli, debu yang ukurannya antara 0,1- 0,5 mikron berdifusi dengan gerak Brown keluar masuk alveoli ; bila membentur alveoli, debu dapat tertimbun disitu (Yunus, 1997). Penyakit yang ditimbulkan akibat terhirup banyaknya debu dapat dihindari dengan berbagai cara diantaranya adalah upaya pengandalian administratif, pengendalian teknis dan pemakaian APD.

b. Nickel Itch

Manusia bisa terpapar oleh nikel melalui jalur makanan, inhalasi, minum air, dan merokok. Dalam jumlah yang kecil nikel diperlukan oleh tubuh sebagai kofaktor yang membantu metabolisme. Namun, pemaparan terhadap nikel bisa menyebabkan sakit kulit eksim dermatitis dan dikenal sebagai “nickel itch”. Tingginya kadar nikel dalam jaringan tubuh manusia dapat mengakibatkan munculnya berbagai efek samping yaitu akumulasi nikel pada kelenjar pituitary yang bisa mengakibatkan depresi sehingga mengurangi sekresi hormon prolaktin dibawah normal.

Akumulasi nikel pada pankreas bisa menghambat sekresi hormon insulin. Dan bila pemaparan berlebihan terjadi bisa menimbulkan masalah kesehatan antara lain risiko kanker paru-paru, hidung, larynx, prostat, emboli paru, kegagalan napas, cacat lahir, asma, bronchitis kronik.

Di atas adalah penyakit-penyakit yang rentan bagi pelaut sesuai kondisi, fakta dan berdasarkan studi kasus yang pernah ada. Masih banyak penyakit lain yang tidak tersebutkan. Namun penyakit diatas adalah yang paling umum ditemukan di kalangan pelaut. Badan dunia International Labour Organization (ILO) mencatat ke tujuh penyakit diatas sebagai penyakit yang sering diderita oleh pekerja dan pelaut.

Sosialisasi dan menyadarkan akan penyakitpenyakit ini di lingkungan pekerja (terutama pelaut) adalah hal penting dan merupakan tanggung jawab kita bersama. Sayangi diri anda, jalani hidup sehat dan buanglah kebiasaan buruk yang dapat memicu masalah terjadinya penyakit berbahaya. Keluarga kita, anak dan istri kita menunggu di rumah. Pulanglah dengan sehat dan selamat saat anda berkumpul bersama keluarga.

Referensi: Masdjidi, D.2006. Problematika Tambang Batubara di Kalsel. Info Pertambangan Indonesia.

Tugaswati, A. Tri, 2003. Dampak Pemanfaatan Batubara di Rumah Tangga terhadap Penyakit Pernafasan. Badan Litbag Kesehatan.

Wang, M, Z Wu, Q Du, E. Petsonk, K Peng, Y Li, J Li, G Han, and M. Atffield, 2004. A Prospective cohort study among new Chinese coal miners: the early pattern of lug function change. Journal Occupational and Environmental Medicine; 62:800- 805.

Yunus, Faisal, 1997. Dampak Debu Industri pada Paru Pekerja dan Pengendaliannya. Cermin Dunia Kedokteran No. 115.

Wilson and Gisvold, 1982. Textbook o f O r g a n i c Me d i c i n a l a n d Pharmaceutical Company. Harper and Row Publishers Inc. London. Alih bahasa : Fatah, Ahmad Musthofa. 1989. Kimia Farmasi dan Medisinal Organik. Jilid I. Edisi Kedelapan. IKIP Semarang Press. Semarang.

TAG :

ptksa, kartika samudra adijaya, tug and barges, floating crane, tanker, shipping company, indonesia, tanker indonesia